Senin, 26 Juli 2021

Mengobati dengan Bisikan-Bisikan Jin

 

Sulis dengan “kelebihannya” bisa mengobati orang dengan hanya sekedar menjalankan bisikan dalam hatinya atau bisa menebak pencuri dengan foto, hanya sebuah kasus. Tetapi kasus ini sebenarnya mewakili banyak orang di negeri ini.

Kemampuan yang dimiliki Sulis oleh kebanyakan masyarakat kita dimaknai sebagai anugerah dari tuhan, dianggap orang yang linuwih. Intinya, manusia pilihan yang dipilih dari sekian banyak manusia. Itulah sebabnya masyarakat kita merasa biasa saja mendatangi orang seperti Sulis untuk menyelesaikan masalahnya. Apalagi jika orang sedang panik, kehilangan benda berharga umpanya. Dengan tergopoh-gopoh, biasanya mencari orang pintar agar bisa mengetahui pencurinya dengan harapan barangnya bisa kembali. Atau orang yang sudah didera penyakit yang tak kunjung sembuh dengan berbagai obat kedokteran dan ramuan tradisional. Orang pintar seperti Sulis seringkali menjadi ujung dari pengharapan untuk sembuh.

Ternyata, kelebihan yang dimiliki Sulis berasal dari jin. Sehingga masalahnya menjadi sangat terang. Terang bagi siapa saja yang merasa bisa mengobati dengan bisikan-bisikan, bahwa itu usaha jin untuk menyesatkan manusia. Dan terang bagi mereka yang datang untuk meminta bantuan kepada orang seperti itu, karena meminta bantuan kepada jin adalah kesesatan.  

Tetapi banyak yang tidak tahu bahwa itu adalah bisikan jin. Yang lebih parah lagi kesesatan itu dianggap sebagai karamah. Ini juga yang dirasakan oleh Sulis. Pada awalnya, dia pun merasa bahwa semua kelebihan itu dianggap biasa. Kalaupun terjadi dialog dalam hatinya, dia masih memberikan peluang untuk masuknya kelebihan itu ke dalam bagian dari karamah.

Wajar, karena beda antara karamah dan kelebihan dari jin tipis saja. Keduanya sama-sama kelebihan. Kelebihan yang dimiliki bisa jadi sama persis. Tetapi ada ciri jelas untuk mengetahui apakah bisikan itu adalah jin atau karamah. Karamah tidak bisa diulang-ulang sesuai dengan kemauan dari pemiliknya. Karena karamah itu murni hadiah dari Allah. Jadi, kalau ada orang yang selalu bisa menolong dengan bisikannya kepada setiap orang yang datang maka itu adalah sihir. 

Rabu, 05 Agustus 2020

Sehat Selalu Dengan Madu

 


Khasiat dan manfaat madu hampir diakui oleh semua pakar kesehatan baik ahli pengobatan timur maupun barat. Manfaat madu diakui bukan hanya sebagai zat penambah energi dan penjaga stamina tapi juga bisa sebagai obat berbagai macam penyakit.

Madu merupakan salah satu produk yang dihasilkan lebah selain royal jelly, pollen, dam malam (lilin). Walaupun tingkat khasiatnya di bawah royal jelly namun khasiatnya tidak kalah besar. Dalam kitab At-Tibb An-Nabawi (Pengobatan cara Nabi) disebutkan bahwa madu juga sangat direkomendasikan oleh Rasulullah sebagai obat berbagai penyakit dan sebagai penambah stamina tubuh.

Para ahli meneliti bahwa selain khasiat madu secara umum, secara spesifik madu mempunyai khasiat berbeda sesuai dengan nektar masing-masing lebah. Nektar adalah jenis bunga yang menjadi makanan bagi lebah.

Jenis bunga yang biasanya menjadi nektar lebah antara lain: bunga kapuk randu, bunga karet, bunga kopi, bunga klengkeng, bunga durian, bunga rambutan, apel, mangga, jambu air, kaliandra, mahoni, dan lain-lain.

Dalam AlQuran Allah SWT juga menyebutkan bahwa apa yang dihasilkan oleh An-Nahl (Lebah) ini merupakan obat. Keistimewaan lebah penghasil madu ini sendiri merupakan pelajaran dan hikmah besar bagi mereka yang mau berpikir. Cara kehidupannnya yang unik dan makanannya selalu dari yang baik-baik dan berkualitas menjadikan apa yang dikeluarkan dari perutnya pun mempunyai khasiat yang tinggi.

Lebah adalah serangga mungil yang tidak mampu berpikir. Akan tetapi mereka mampu menyelesaikan sejumlah pekerjaan besar yang tak terbayangkan sebelumnya. Setiap pekerjaan tersebut membutuhkan perhitungan dan perencanaan khusus. Sungguh mengagumkan bahwa kecerdasan dan keahlian yang demikian ini ada pada setiap ekor lebah. Namun, yang lebih hebat lagi adalah ribuan lebah bekerjasama secara teratur dan terencana dalam rangka mencapai satu tujuan yang sama, dan mereka melaksanakan bagian pekerjaan mereka masing-masing secara penuh dan sungguh-sungguh tanpa kesalahan sedikitpun.

Kesulitan terbesar dalam pengorganisasian sekelompok orang untuk bekerja secara bersama adalah penyiapan jadwal kerja serta pembagian tugas dan tanggung jawab. Dalam sebuah pabrik, misalnya, terdapat struktur jabatan yang rapi di mana para pekerja melapor pada mandor, para mandor melapor pada insinyur, para insinyur melapor pada manajer pelaksana dan para manajer pelaksana melapor pada manajer umum.

Selasa, 09 Juni 2020

Bekam Jakarta Pusat


"DETOX vs BEKAM”
Detox
Detoksifikasi alias detox adalah cara untuk membersihkan tubuh dari racun. Diet detoksifikasi mengharuskan Anda melakukan hal tertentu dalam jangka waktu tertentu yang bertujuan untuk membersihkan tubuh dari racun lingkungan dan makanan yang ada dalam tubuh.
Detoksifikasi bisa dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang melakukannya dengan hanya mengonsumsi jus sayur dan buah, dan ada juga yang melakukannya dengan cara yang lebih mudah, seperti menghindari diri dari konsumsi makanan yang mengandung gula, garam, kafein, dan alkohol. 
Anda yang biasanya mengonsumsi makanan yang tidak sehat mungkin akan merasa lebih baik setelah melakukan detoksifikasi ini. Tubuh Anda akan terasa seperti ada perbaikan, lebih muda, dan lebih berenergi. Mungkin dengan melakukan detoksifikasi ini, Anda juga akan kehilangan beberapa kilogram berat badan Anda. Namun, jika berat badan Anda sudah turun dan berada dalam kisaran yang normal, sebaiknya Anda pertahankan dengan tetap mengadopsi pola hidup sehat.
Bekam

Sabtu, 09 Mei 2020

Keghaiban Turunnya Malaikat




تَنَزَّلُ الْمَلاَئِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِّنْ كُلِّ أَمْرٍ


“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril
dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.” (QS. al-Qadr: 4).

Malaikat adalah makhluk Allah yang telah Dia ciptakan dari cahaya. Malaikat termasuk makhluk ghaib yang tidak bisa dilihat wujud aslinya oleh manusia, kecuali para nabi dan rasul yang dikehendaki Allah. Walaupun mata kita belum pernah melihatnya secara nyata, tapi kita sebagai seorang mukmin wajib mengimani keberadaannya. Malaikat itu ada, karena keberadaannya telah dikabarkan Allah dan Rasul-Nya, melalui al-Qur’an dan as-Hadits yang telah sampai di tangan kita.
Dan yang kita maksud dari turunnya malaikat dalam pembahasan ini adalah turunnya mereka pada malam keagungan (lailatul qadri) yang nilainya di sisi Allah lebih baik daripada seribu bulan. Sebagaimana yang diinformasikan oleh al-Qur’an, bahwa pada malam itu para malaikat turun dari langit atas perintah Allah, lalu mereka berjejal dan menyesaki bumi ini.

Turunnya Malaikat ke Bumi
Para malaikat Allah sangat banyak sekali jumlahnya, dan tidak ada yang mengetahui secara pasti berapa jumlah mereka sebenarnya. Hanya Allah yang Maha Mengetahui berapa kuantitas para malaikat, baik yang ada di bumi bersama manusia maupun yang ada di langit sana.
“Dan tidak ada yang mengetahu tentara Rabbmu (Tuhanmu) kecuali Dia sendiri.” (QS. al-Muddatstsir: 31).

Selasa, 05 Mei 2020

Keghaiban Nuzulul Qur’an




شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْ أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda
(antara yang hak dan yang bathil)…
(QS. al-Baqarah: 185).

Ternyata al-Qur’an sebagai kitab suci yang selama ini telah menjadi pedoman hidup kita turunnya pada bulan Ramadhan, tepatnya pada malam keagungan atau malam lailatul qadr. Bukankah lailatul qadr itu adanya di sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan? Sebagaimana yang banyak diberitakan oleh Rasulullah dalam banyak haditsnya yang shahih. Lalu kenapa kita selalu memperingati peringatan turunnya al-Qur’an pada tanggal 17 Ramadhan? Apakah ada kesalahan referensi sehingga antara keduanya itu terjadi tulalit? Inilah salah satu permasalahan yang akan kita urai pada tema ini.

Tahapan Proses Penurunan al-Qur’an

Selama ini kita memahami bahwa turunnya al-Qur’an dari Allah kepada Rasulullah terjadi hanya dengan satu proses. Yaitu Allah menurunkan al-Qur’an secara bertahap kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril. Padahal sebenarnya tidaklah seperti itu. Al-Qur’an diturunkan melalui dua kali proses penurunan.
Pertama, Al-Qur’an diturunkan oleh Allah dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah (di langit dunia) secara keseluruhan dan sekaligus, dan itu terjadi pada waktu lailatul qadr. Kedua, Malaikat Jibril atas perintah Allah menurunkan al-Qur’an dari Baitul ‘Izzah kepada Rasulullah secara berangsur dan dalam jangka waktu yang cukup lama, yaitu 23 tahun. 13 tahun di Makkah dan sekitarnya, dan 10 tahun lagi di Madinah dan sekitarnya.

Sabtu, 02 Mei 2020

Keghaiban Pahala Puasa




عَنْ أَبِيْ صَالِحٍ الزَّيَّاتِ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ -رَضِي اللَّه عَنْه- يَقُولُ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: قَالَ اللَّهُ: كُلُّ عَمَلِ
ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ ... (رواه البخاري ومسلم)

Dari Abu Shalih az-Zayyat, ia telah mendengar Abu Hurairah berkata, “Rasulullah bersabda bahwa Allah telah berkata, ‘Setiap amal ibadah anak cucu Adam itu untuknya, kecuali puasa. Karena (puasa) itu untuk saya, dan saya sendiri yang akan membalasnya…’.” (HR. Bukhari, no. 1771. Muslim, no. 1942).

Suatu ibadah kaitannya sangat erat dengan pahala dan dosa. Bagi siapa saja –laki atau perempuan- yang melaksanakan ibadah kepada Allah secara benar, maka ia akan mendapatkan pahala dari Allah sebagaimana yang telah Dia janjikan. Dan siapa saja yang meninggalkan ibadah yang telah Allah perintahkan, maka ia akan mendapatkan dosa dan siksa yang pedih dari Allah sebagaimana yang Dia ancamkan.

وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتَ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَـئِكَ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يُظْلَمُوْنَ نَقِيْراً

“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. an-Nisa’: 124).
Dan ibadah yang dilakukan oleh seorang mukmin atau mukminah, tidak akan diterima oleh Allah dan tidak akan dibalas dengan pahala yang dijanjikanya, kecuali bila ibadah itu memenuhi dua syarat pokok. Pertama, ibadah itu dilaksanakan sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah. Sebagaimana yang disabdakan rasulullah dalam haditsnya.
Rasulullah bersabda.

عَنْ عَائِشَةَ -رَضِي اللَّه عَنْهَا- قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ، فَهُوَ رَدٌّ. (رواه البخاري)

Aisyah berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa mengadakan sesuatu yang baru dalam perkara kami ini (ibadah) yang tidak ada tuntunannya, maka ia tertolak.” (HR. Bukhari, no. 2499).
Dalam riwayat lain.

عَنْ عَائِشَةَ -رَضِي اللَّه عَنْهَا- أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَالَ: مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ. (رواه مسلم)  

Aisyah berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa melakukan amal ibadah yang tidak kami perintahkan, maka ia tertolak.” (HR. Muslim, no. 3243).

Jumat, 03 April 2020

Kado Jin dari Suami di Malam Pertama


  
Gerbang pernikahan begitu sakral. Selayaknya disikapi dengan dewasa. Bukan hanya mau menang sendiri, tanpa sudi mengindahkan hak pasangannya. Bila demikian, maka kebahagiaan rumah tangga hanya diangan-angan. Seperti kisah Sari, seorang ibu beranak dua. Ia menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghoib. Berikut petikannya.

Sebagai wanita, saya ingin mengurangi beban orangtua yang tinggal sebatang kara. Bapak telah meninggal sekian tahun yang lalu. Sementara ibu terbilang sudah tidak muda lagi. Umurnya sudah berkepala lima. Tahun 2000, saya memutuskan melamar kerja di sebuah perusahaan swasta. Meski saat itu sudah ada seorang pemuda yang berniat menyunting saya. Namanya Rian.
Lamaran saya untuk bekerja diterima. Dunia baru yang memang berbeda. Saya bertemu dan berinteraksi dengan orang dengan latar belakang yang beragam.
Sementara itu Rian, yang telah bertemu dengan ibu dan bibi, berniat untuk meminta restu kepada kedua orangtuanya di Pekalongan, Jawa Tengah. Selama ini, saya memang tidak pernah bertemu dengan Rian secara langsung. Saya hanya mengenalnya sebatas informasi dari orang lain. Meski demikian, sejujurnya saya yakin bahwa ia pemuda yang baik dan mampu menuntun istrinya.
Ketika dia main ke rumah, saya tidak ikut serta menemaninya. Niatannya untuk menikah, itu pun diutarakannya langsung di hadapan ibu dan bibi. Sementara saya hanya mendengarnya dari balik pintu.
Memang, saat itu Rian belum memberikan kepastian. Dia menggantung niatan nikah itu dengan restu orangtuanya. Hanya batasan waktu tiga bulan yang ia berikan. Bila tidak ada berita apapun darinya, maka saya bebas menikah dengan orang lain. Karena itu berarti ia tidak mendapatkan restu dari orangtuanya.
Waktu berlalu begitu cepat. Sementara kabar dari Rian belum juga datang. Dalam kondisi yang tidak menentu itu, salah seorang teman kantor menemukan celah untuk mendekati saya. Teman-teman biasa memanggilnya dengan Rizal, asal Sumatra. Nama lengkapnya Syahrizal. Selama ini Syahrizal diam-diam memperhatikan saya. Hal itu saya ketahui dari teman-teman. Meski sebenarnya kami satu kantor, tapi di gedung yang berbeda.
Entah darimana asalnya, Syahrizal mengetahui rencana pernikahan saya dengan Rian. Hingga dalam suatu kesempatan dia memojokkan saya, "Sudah mau nikah ya?" tanyanya. Saya yang masih belum tahu ada apa di balik pertanyaan itu, menjawab apa adanya. "Iya, tapi nanti setelah lebaran."

Rabu, 15 Mei 2019

BAGAIMANA INTERAKSI KITA DENGAN RAMADHAN


Oleh: Dr. Atabik Luthfi, MA

“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa sebagaimana (hal itu) telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Satu kemudahan yang Allah berikan bahwa susunan ayat-ayat tentang puasa berada dalam satu surah secara berurutan, yaitu Surah Al-Baqarah ayat 183,184,185 dan 187. Kecuali ayat 186 yang berbeda kandungan pembahasannya. Namun keterkaitannya dengan puasa masih tetap kentara karena ayat ini mengisyaratkan kedekatan Allah dengan hamba-Nya.untuk diajak berkomunikasi melalui media doa. “Dan jika hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku maka katakanlah Aku dekat. Aku memenuhi permintaan orang yang meminta jika ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah ia memenuhi segala perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar senantiasa mendapat petunjuk.” Dan bulan Ramadhan adalah bulan dimana seseorang memperbanyak komunikasi dengan Allah. Karena doa seseorang yang berpuasa tidak akan ditolak oleh Allah, apalagi saat ia berbuka seperti yang ditegaskan oleh Rasulullah, “Doa orang yang berpuasa ketika ia berbuka tidak akan ditolak oleh Allah.” (HR. Ibnu Majah). Betapa puasa Ramadhan harus mendapat perhatian serius dari kita selaku orang-orang yang beriman dengan ayat ini.
            Perintah puasa dimulai dengan panggilan kehormatan kepada mereka yang masih mampu mempertahankan keimanannya. Panggilan akrab ini sebagai satu isyarat bahwa hanya mereka yang benar-benar beriman yang mampu melaksanakan puasa yang bisa mencapai target takwa. Karena puasa sudah menjadi kebutuhan dan tradisi manusia sepanjang zaman, muslim maupun non muslim. Jika puasa tidak bisa menghantarkan seseorang kepada derajat takwa, maka puasa itu masih sebatas memenuhi hajah basyariyah (kebutuhan manusiawi) seperti yang dilakukan oleh mereka yang berpuasa karena tuntutan kesehatan atau sebagainya. Inilah rahasia Allah mengawali pembahasan puasa dengan seruan yang ditujukan khusus (takhsish) kepada orang-orang yang beriman. Dan disinilah inti perbedaan antara puasa orang-orang yang beriman dengan puasa selain mereka.
            Perintah yang ditujukan khusus kepada orang-orang yang beriman, selain sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan Allah atas keimanan mereka, juga merupakan ujian atas keimanan. Mampukah dengan menjalankan puasa di bulan Ramadhan keimanan mereka meningkat mencapai derajat takwa. Panggilan takhsish ini mestinya bisa mengetuk hati kecil mereka untuk terpanggil melaksanakan perintah-perintah Allah. 

Sabtu, 05 Januari 2019

“Dengan Ilmu Metafisis, Saya Bisa Menyetir Sambil Tidur.” ( RUQYAH DAN BEKAM JAKARTA PUSAT )


Nama saya Drs.Basuki Abdur Rahman, SU. Saya lahir di Sragen, Solo Jawa Tengah, pada 21 Juni 1964. Pendidikan saya, SD dan SMP di Xaferius Katolik. Sementara SMA-nya saya masuk di SMAN I  Sragen. Selepas SMA saya melanjutkan kuliah di Universitas Gajah Mada Yogyakarta Fakultas MIPA  hingga tamat tahun 1989. Di tempat itu pula saya melanjutkan S2 Matematika, hingga tamat pada tahun 1996.

         Saya pernah terdaftar sebagai Dosen Mate­matika di 14 pergur­uan tinggi di Yogyakarta. Hing­ga akhirnya sekarang saya menjadi Dekan Fakultas MIPA Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Selama masa kuliah, saya menjadi salah satu aktifis Jamaah Shalahuddin UGM Yogya­karta.
Saya dilahirkan dalam lingkungan yang sangat jauh dari agama Islam. Bahkan keluarga saya, termasuk kedua orang tua saya tidak ada yang menjalankan shalat. Kehidupan mereka sarat dengan dunia klenik dan kemusyrikan, karena seti­ap ada masalah pasti larinya ke dukun, kemu­dian mempercayai nasehat dukun itu untuk ber­se­saji, mengadakan selamatan, kenduri dan sebagainya.
Saya sendiri ketika mau mengikuti ujian seko­lah, diajak oleh bapak saya pergi ke seorang dukun, sorang tua yang biasa disebut Mbah Fulan, di Sambirejo Sragen. Saya juga tidak tahu mau diapa­kan di sana, si Mbah itu itu bilang, “Kesini nak, saya bukakan pintu kecerdasanmu.”
Dari sejak kecil, saya terbiasa makan maka­nan yang haram, seperti makan daging babi, da­ging anjing, daging kucing dan sebagainya. Pernah ada seekor kucing yang suka makan anak ayam milik keluarga saya, maka setelah ketahuan oleh kakak-kakak saya, kucing itu segera diuber dan setelah ditangkap langsung disembe­lih dan dimakan rame-rame.
Saya mengenal shalat setelah saya kelas dua SMP. Padahal saya sekolah di SMP Xaferius Katolik. Saya tiba-tiba mendapatkan hidayah dari Allah, dengan ada keinginan untuk belajar shalat dari teman main saya Maryono yang masih duduk di kelas lima SD. Saya pun kemudian diajak belajar mengaji di langgar (surau) di kampung sebelah. Pada awalnya, saya minta dia untuk melakukan shalat di depan saya dan saya terus mengikutinya. Memang sejak saya melakukan shalat, banyak juga rintangan dari lingkungan keluarga yang tidak mengenal shalat, tetapi saya tetap melaku­kannya.
Meskipun saya sudah shalat, tetapi saya masih terbiasa makan daging anjing karena tidak tahu hukumnya, baru setelah saya ditegur oleh teman saya, kemudian saya tinggalkan.

Ketika saya mulai menginjak dewasa dan  saya sudah duduk di SMA, saya agak sedikit tertarik dengan ilmu tenaga dalam dan ilmu kebal atau tahan pukulan. Saya diajak oleh teman saya untuk ‘diisi ilmu’ tenaga dalam  dari sebuah aliran. Tidak usah saya sebutkan aliran apa. Waktu itu saya disuruh memakai sabuk saya yang sudah ‘diisi’ oleh guru saya. Kemudian ada teman yang disur­uh memukul saya dengan penuh emosi. Aneh­nya, saya merasa tidak ada pukulan yang mengenai tubuh saya dan teman saya itu pun terpental ke belakang. Kemudian giliran saya yang disuruh memukul dia.
Tetapi waktu itu juga saya ragu dengan ilmu tersebut. Maka dengan bismillah dan membaca do‘a, saya melayangkan pukulan saya ke tubuhnya. Dia pun langsung sempoyongan. Peristiwa itu menguat­kan saya untuk punya keyakinan bahwa ilmu semacam ini jelas tidak benar. Setelah itu saya pulang ke rumah dan saya gantungkan celana dan sabuk (ikat pinggang) di gantungan, tetapi malam itu malah diambil pencuri. Dan setelah itu saya tidak lagi belajar ilmu tenaga dalam.
Tetapi pengalaman seputar itu kembali ter­jadi ketika saya kuliah di UGM Yogyakarta, Fakultas MIPA, saya punya seorang teman kos. Pada suatu malam dia bilang kepada saya, “Bas, Kalau kamu mau lihat jin, coba lihat saja di tem­pat yang terang, kalau ada bayangan hitam, maka itu adalah jin. Tapi jangan takut, karena jin itu bisa kita manfaatkan untuk kepentingan terten­tu.”
Maka, saya coba perhatikan tempat yang ditunjukkan itu. Saya memang sempat melihat semacam bayangan hitam. Teman saya itu juga bilang bahwa ia punya kemampuan menangkap jin atau syetan kemu­dian di taruh di dalam kantong plastik. “Kalau kamu coba mengin­jak plastik ini, kamu pasti jatuh,” katanya waktu itu.  Tetapi saya tidak mau melakukannya. Setelah itu ia memprovokasi saya untuk belajar ilmu metafisis  paranormal, untuk pengobatan dan kesehatan. Pada waktu itu saya memang sakit TBC dan ingin sekali cepat sembuh, meskipun saya juga minum obat dari dokter. Dia bilang, ikuti cara saya, kamu akan sembuh dengan cepat. Kemudian saya tanyakan caranya bagaimana?
Untuk menjawab pertanyaan itu saya diajak ke dekat lembah UGM, dan disana saya ‘diisi kekuatan metafisik’. Saya disuruh mengosongkan diri, menetralkan diri, dan mengikuti mantra-mantra bahasa Jawa yang diajarkan kepada saya. Apapun yang terjadi, saya disuruh mengikuti saja. Dia bilang, nanti tanganmu akan bergerak sendiri, kakimu akan bergerak sendiri, dan seluruh tubuh kamu akan bergerak sendiri, ikuti saja gerakan itu.
Benar, setelah dimulai pengisian itu, kaki saya terasa ada yang mengge­rakkan perlahan-lahan, dan saya terus mengikuti gera­kan kaki saya itu sampai saya berjalan sendiri dari Karang Malang ujung E 2 sampai ke IKIP kemudian pulang ke tempat kos.
Pada malam berikut­nya, saya disuruh mencoba sendiri di kamar. Kira-kira pukul 11.00 malam saya lakukan apa yang diajarkan teman saya itu. Setelah saya baca mantra-mantra kemudian saya berdo‘a kepada Allah agar penyakit saya disembuhkan. Tidak lama kemudian, tubuh saya digerakkan dan terbanting-banting ke tembok dan ke lantai. Bergerak sendiri dengan gerakan-gerakan yang aneh-aneh. Bahkan saya sampai muntah-muntah sangat banyak. Semua makanan dan minuman malam itu habis terbuang keluar semuanya. Namun begitu, saya tetap melakukan pengobatan secara medis juga. Anehnya, setelah saya melakukan ceck up ke dokter, saya dinya­takan sembuh.
Semenjak saya belajar ilmu metafisis itu, saya bisa membaca pikiran orang, perasaan orang, dan diajari untuk meramal bagaima­na saya harus pergi atau tidak. Anehnya saya disuruh langsung memohon kepada Allah, apabila saya harus pergi, maka tangan kanan saya langsung bergerak ke kanan, kalau sebaiknya tidak pergi tangan kanan saya bergerak ke kiri. Bahkan kalau saya biarkan saja, saya bertekad untuk pergi, tanpa berdo‘a sekalipun, tangan saya bergerak sendiri. Saya juga tidak tahu kenapa bisa bergerak sendiri.
Untuk membaca pikiran dan perasaan teman, pernah saya coba pinjam motor dia, saya pakai untuk pergi. Wak­tu itu dia pinjamkan dengan berat hati, karena dia juga mau pergi. Saya lakukan dengan berdo‘a kemudian ada gerakan tangan yang menunjukkan bahwa dia mau pergi. Saya lakukan cross ceck kepadanya, dan saya meminta kejujurannya deng­an terus terang, apakah Anda tadi mau pergi atau tidak? Maka jawabnya, memang dia mau pergi. “Tetapi karena yang pinjam kamu, maka sa­ya nggak enak kalau tidak me­min­jamkan,” begitu katanya.
Lebih dari itu, saya sering sengaja tidur di atas motor menuju kampus Universitas Ahmad Dahlan tempat saya mengajar, setelah sebelumnya saya berdo‘a kepada Allah agar diselamatkan sampai tempat tujuan. Dan, memang saya tertidur betul, meskipun saya memboncengkan istri saya. Kalau melewati lampu merah, juga berhenti, belok kanan, belok kiri, jalan lurus juga tidak mena­brak-nabrak, sampai ke gerbang kampus saya baru terbangun, dan saya membaca Alhamdulillah.
Segala berjalan seperti itu. Sampai kegamang­an itu muncul, ketika saya ujian Pasca Sarjana. Waktu itu, ketika saya mau mengerjakan soal-soal ujian Pasca Sarjana, saya berdo‘a kepada Allah agar digerakkan tangan saya untuk mengerjakan soal-soal ujian. Tetapi ternyata tangan saya diam saja, tidak mau bergerak sendiri. Saya heran dan bingung.
Akhirnya, semua itu perlahan-lahan memaksa saya untuk berfi­kir logis. Berarti yang menggerak­kan tangan saya itu bukan Allah, tetapi mungkin jin yang dimasukkan. Maka saya mulai berfikir, ilmu metafisis yang saya pelajari ini tidak menam­bah kepandaian, tetapi bisa menyebab­kan orang jadi bodoh. Karenanya, setelah mere­nungkan itu semua, saya malah bersyukur ketika tangan saya tidak digerakkan untuk mengerjakan soal-soal ujian. Saya pikir, kalau saya dikerjain de­ng­an jawaban yang salah malah nilai saya bisa jeblok.
Sejak itu, saya tidak pernah lagi menggunakan ilmu saya. Hingga suatu hari saya bertemu dengan ustadz Fadhlan untuk mengi­kuti forum pengaji­an­nya. Selesai pengajian itu saya sampaikan penga­laman masa lalu saya kepada beliau. Beliau me­nya­ran­kan saya untuk melakukan terapi ruqyah. Sayapun diterapi oleh Ustadz Fadhlan, sampai empat kali.
Terapi pertama dilakukan di rumah Bapak Drs.Muhammad Haris Widodo, di Perumahan Griya Arga Permai Nogotirto, Sleman. Waktu itu, seluruh tubuh saya bergetar dan saya tidak bisa mengendali­kan gerakan kaki dan tangan saya. Kemudian ada suara jeritan dan tangisan kesakit­an yang muncul melalui mulut saya. Waktu itu saya merasa dipukul. Saya mendengar Ustadz Fadhlan membentak jin yang ada di dalam tubuh untuk keluar. Saat itu saya merasakan tenang, lalu saya disuruh untuk sujud syukur. Ustadz Fadh­lan menerangkan bahwa yang menggerak­kan tubuh saya itu adalah jin dan jeritan tadi juga jeritan jin. Pukulan ustadz pun ditujukan kepada jin, sehingga saya sendiri tidak merasakan sakit­nya pukulan Ustadz yang keras itu. Sejak itu ibadah saya semakin baik.
Pada terapi kedua, dilakukan di rumah Bapak Ir. Abdul ‘Aziz (Darwaji), di Nglempongsari Sleman setelah pengajian. Waktu itu ketika saya diruqyah, jin dalam tubuh saya tertawa ngakak melalui mulut saya. Kemudian Ustadz Fadhlan bertanya.
“Siapa kamu?
“Saya Tuhan,” jawab jin itu, melalui mulut saya.
Ustadz Fadhlan membentak, “Bohong kamu. Kamu hanyalah jin kafir yang sesat!”
“Tidak, saya adalah Tuhan,” sahut jin itu lagi.
Ustadz Fadhlan kembali mementak, “Kenapa kamu mengaku seba­gai Tuhan?”
Jin itu menjawab, “Ya, karena saya pelindung orang ini, penguasanya, dan orang ini selalu meminta apa-apa kepadaku.”
“Tidak, dia mintanya kepada Allah,” bentak Ustadz Fadhlan.
Sambil tertawa ngakak jin itu menjawab, “Tapi dia membaca mantra-mantra untukku, berarti dia sudah menyembahku.”
Ustadz Fadhlan berkata lagi, “Kalau kamu tetap mengaku seba­gai Tuhan, saya akan membacakan ayat-ayat Allah kepadamu, wahai jin kafir!
Sekali lagi, sambil tertawa ngakak, jin itu ber­kata, “Sila­kan, saya nggak takut dengan baca­anmu.”
Kemudian Ustadz Fadhlan membacakan ayat-ayat Al Qur‘an. Maka jin itu menjerit dan mena­ngis. Ia meminta agar ustadz tidak melanjutkan baca­annya, tetapi ustadz tetap membaca sampai selesai ditambah do‘a-do‘a yang dibaca dengan jelas.
Kemudian Ustadz Fadhlan menyampaikan dakwah Islam kepada jin kafir itu dengan menje­laskan tujuan jin dan manusia diciptakan hanyalah untuk mengabdi kepada Allah. Akhirnya jin itu mau mener­ima Islam dan dituntun membaca syahadatain. Untuk menguji kebe­naran dan keju­juran jin yang masuk Islam itu, Ustadz Fadhlan membacakan ayat-ayat tentang munafiqin dari awal Al-Baqarah. Ternyata jin itu menangis kesa­kit­an seperti dibakar. Kemudian Ustadz Fadhlan mengatakan, “Ternyata kamu hanya berpura-pura masuk Islam. Kalau kamu memang ingin masuk Islam, kamu harus jujur dan dengan ikhlas karena Allah, bukan karena takut kepada saya!”
Akhirnya jin itu mau bersyahadat kembali. Ketika ditanyakan namanya, jin itu menjawab namanya Paijo. Kemudian Ustadz Fadhlan meng­gantikan nama Paijo dengan Abdullah. Ustadz Fadhlan lantas membacakan ayat Kursi. Sesudah itu tampaknya jin itu tenang.
Anehnya, jin itu ingin masuk ke dalam tubuh Ustadz Fadhlan. Maka Ustadz Fadhlan berkata, “Silahkan masuk, kalau kamu bisa!” Saya pun tan­pa sadar bergerak mengikuti gerakan jin yang ber­usaha pindah ke tubuh Ustadz Fadhlan. Tetapi jin yang sudah menguras tenaga saya untuk masuk ke Ustadz, akhirnya menyerah dan bilang tidak bisa, karena ada benteng keras yang tidak keli­hatan.
Sebelum jin itu disuruh segera keluar, Ustadz membuat perjan­jian dulu dengan dia agar tidak masuk lagi ke jasad manusia. Apabila ia melanggar perjanjian ini maka laknat Allah turun kepadanya. Kemudian jin itu mengikrarkan sumpahnya dan kemudian keluar lewat mulut saya. Selama proses terapi, saya sadar penuh tetapi saya tidak bisa me­­ngendalikan gerakan tubuh atau ucapan. Keti­ka dipukul memang terasa, tetapi tidak merasa sa­kit, meskipun jinnya kesakit­an.
Terapi keempat dilakukan di rumah Ustadz Fadhlan. Saya, istri saya dan kelima anak-anak saya semuanya minta diruqyah langsung oleh Ustadz Fadhlan agar tuntas, dan agar pengaruh ilmu metafisis yang ternyata jin yang dimasukkan itu tidak menular ke keluarga saya. Ketika diruq­yah dengan mendengarkan kaset terapi serangan sihir, istri dan anak saya merasakan getaran di tangan dan terus-menerus. Maka oleh Ibu Dra. Sudarti (istri Ustadz Fadhlan) diban­tu dengan dipu­kul dan diurut, kemudian getaran itu akhirnya hilang.
Sedangkan saya, ternyata masih ada jin lain yang ada di tubuh saya. Ketika mendengarkan ayat-ayat Al Qur‘an yang disetel dengan volume tinggi, jin yang masih ada di dalam tubuh saya meronta-ronta, menjerit-jerit kesakitan dan menga­takan mau dengan bahasa Jawa bahwa ia mau keluar tetapi tidak bisa. Ia mengatakan, “Pokoke aku arep metu tenan iki, piye carane?” (Pokoknya saya mau keluar betulan ini, bagaimana caranya?).
Ustadz Fadhlan menanyakan, “Apa agamamu?
Jin itu menjawab, “Islam.”
“Kamu jin Islam atau jin Munafiq?” tanya Ustadz Fadhlan lagi.
Ia menjawab, “Jin munafiq.”
Kemudian Ustadz Fadhlan membacakan ayat-ayat tentang munafi­qin di awal surat Al Baqarah, jin meraung-raung kesakitan, ustadz membim­bing­nya untuk bertaubat kepada Allah, setelah ber­taubat dan bersayahadat, jin diperintahkan untuk segera keluar, tetapi tidak bisa karena di­ikat dikedua kakinya. Ustadz membacakan do‘a dan memukul kedua kaki saya dengan sapu lidi sampai akhirnya ikatan itu lepas dan jin keluar de­ng­an seluruh anak buahnya yang ikut masuk Islam.
Saya kemudian bangun dan lemas sekali. Karena lebih dari dua jam diruqyah. Saya seperti mandi keringat di tengah malam. Waktu itu saya ingat betul, jam 11.23 malam Ahad, 14 Desem­ber 2002. Saya disuruh untuk sujud syukur dan saya lakukan.
Dari peristiwa dan kejadian yang saya alami sendiri ini, saya menjad sadar. Memang saya sebelumnya sama sekali tidak tahu adanya tipu daya jin atau syetan di balik ilmu metafisis yang diajarkan kepada saya, termasuk cara pengobatan sakit TBC, ilmu telephati untuk mem­baca pikiran atau pera­saan orang lain, atau mengendarai mobil tanpa sadar dan tahu-tahu sudah berada di tempat lain.
Saya baru tahu setelah diruqyah. Semenjak diruqyah saya merasa lebih ringan dalam beribadah, membaca Al Qur‘an, bahkan saya sangat bersyukur karena lebih mudah melakukan shalat malam dan saya rutinkan shalat dhuha. Apalagi, Alhamdulillah saya juga punya amanah menjadi Ketua Yayasan Pendidikan Dakwah dan Sosial Al Khairat, yang mem­bawai Pesantren Mahasiswa dan Mahasiswi Al Khairat dengan jumlah san­trinya 120 orang. Juga di Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah, TKIT dengan jumlah santri 80 anak, serta SDIT yang baru memasuki tahun pertama dengan satu kelas.
Sejak itu saya selalu berdo’a, mudah-mudahan saya, istri saya, Dra. Shofi, dan anak-anak saya, tiga putri dan dua putra, benar-benar dibimbing Allah untuk lebih mendekat kepada-Nya, berja­lan di jalan yang diridhoi-Nya, dan dibersihkan dari segala macam kemusyrikan.
Seperti dituturkan Drs. Basuki Abdur Rahman, yang tinggal di Warungboto, Umbulharjo, Yogyakarta, kepada  Majalah Ghoib. 

Jumat, 23 Maret 2018

Terpedaya Dukun Bertampang Kyai


Ustadz, saya pernah sakit kepala terasa ditusuk-tusuk jarum, dan berobat ke dokter sering kali tapi belum sembuh. Saya pernah mengundang seorang kyai, saat pengobatan dia mengeluarkan kawat dari dada dan kaki, tiga butir gabah dari dada. Dia memberi saya jimat, bambu kuning untuk dikubur di pekarangan rumah.
Setelah saya tahu kalau pakai jimat itu tidak boleh. Saya ragu, apakah dia dukun atau kyai? Lalu saya menggali jimat itu dan membuangnya. Tapi yang di belakang rumah tidak ketemu saat digali kembali. Kemana bambu tersebut? Sampai sekarang saya dibayang-bayangi dosa tersebut, terapi apa yang harus saya lakukan? Atas jawabannya, terima kasih.
Hamba Allah, Jatiwangi Majalengka Jawa Barat
Bismillah wal Hamdulillah, cerita Anda cukup detil, tapi maaf kami tidak bisa menampilkan isi surat Anda semuanya, karena terbatasnya ruang. Do’a dari redaksi dan pembaca Majalah Ghoib lainnya, semoga Allah segera menyembuhkan penyakit yang Anda derita. Aamiin.
Sudah banyak pembaca Majalah Ghoib yang mengadukan pengalaman yang serupa dan hampir sama dengan Anda, yaitu terpedaya oleh seorang dukun yang bertampang kyai. Bahkan di antara mereka ada yang tertipu secara materi dan immateri, terampas aqidah dan kehormatannya. Sungguh memilukan.
Maka dari itu, sudah seharusnya kita hati-hati terhadap praktik perdukunan yang menggunakan lebel Islam, dan menjauhi seorang dukun yang berbaju kyai. Jangan terpesona dengan penampilan, tapi lihatlah bagaimana cara dia melakukan pengobatan atau terapi. Kalau cara yang digunakan adalah cara perdukunan, maka ia adalah dukun, meskipun pakaiannya pakaian ulama’ atau kyai.
Tapi di sisi lain, kami juga turut bergembira karena Anda segera menyadari bahwa sosok yang dianggap kyai itu, ternyata hanyalah seorang dukun yang menyesatkan. Solusi yang Anda terima darinya selama ini adalah solusi syetan, dengan menggunakan sesajen kembang dan jimat-jimat produk syetan.

Senin, 22 Januari 2018

Putus Mata Rantai Ilmu Titisan


Bu Ramting tidaklah sendirian. Ada banyak kisah serupa yang kita temukan dari pasien ruqyah yang diterapi di Ghoib Ruqyah Syar'iyah. Para pasien itu tidak pernah mempelajari ilmu kesaktian dengan berbagai fariannya. Mereka juga tidak melakukan tirakatan, atau lelakon apapun.
Tapi mereka adalah korban. Ya, korban atas apa yang dilakukan oleh leluhur mereka yang pernah memperdalam ilmu kesaktian. Mereka dipaksa untuk menjadi penitisan jin yang mereka katakan sebagai khadam, tanpa dimintai persetujuan.
Mau atau tidak, mereka adalah pewaris ilmu titisan. Sesuai dengan perjanjian yang telah dibuat oleh leluhur mereka. Itu adalah perjanjian dengan syetan yang ujung-ujungnya menyeret ke jurang kehancuran.
Menilik pada keseluruhan kisah, sesungguhnya kemampuan itu bukanlah karamah atau maunah, karena setelah menyembuhkan pasien patah tulang, justru salah satu keluarganya ada yang menjadi korban berikutnya. Mereka mengalami kecelakaan.
Keahlian itu adalah titisan dari leluhur Bu Ramting, yang diakuinya ahli urut. Masalahnya mengapa kemudian keluarganya menjadi tumbal? Bisa jadi karena ada persyaratan-persyaratan tertentu yang belum dilunasi. Sehingga syetan yang telah membantu Bu Ramting meminta ganti yang lain.
Menurut orang pintar lainnya, keahlian Bu Ramting pada akhirnya akan menitis pada anak-anaknya. Buktinya, sejak kecil, kedua anaknya bisa melihat makhluk ghaib yang tidak bisa dilihat orang lain. Dengan kata lain, pada diri kedua anaknya sudah ada jin yang menyertai mereka.
Keberadaan jin dalam diri manusia tidaklah menguntungkan manusia itu sendiri. Karena sejak semula mereka telah mengikrarkan diri sebagai musuh yang akan mengajak mereka ke dalam neraka. Bukalah lembaran al-Qur'an dalam surat al-Hijr ayat 34. Syetan berikrar, "Dan aku akan menyesatkan mereka semua."

Rabu, 22 November 2017

SUDAHKAH ANDA BERBEKAM

OLEH. USTADZ AGUNG AL-MUMTAZY
Pembaca yang budiman,
Kita telah sama-sama mengetahui bahwa khasiat dan manfaat hijamah ( berbekam ) itu sangat agung baik di masa yang lalu, sekarang dan untuk masa yang akan datang. Mungkin telah ribuan bahkan jutaan kasus berbagai penyakit yang telah sembuh hanya dengan merutinkan terapi hijamah / bekamini. Mulai dari stroke, kanker, hipertensi, insomnia, vertigo, asamurat, kolesterol, gatal-gatal, dan lain-lain, semua bisa sembuh dengan terapi mukjizat ini. Dan uniknya lagi, terapi bekam ini telah diakui dan dipraktekan oleh seluruh para terapisnya di semua belahan dunia, baik muslim maupun non muslim.
Ketika kita telah merasakan nikmatnya melakukan terapi ini, kemudian timbul pertanyaan, “Kapan lagi saya harus dibekamya?” atau “Sebaiknya berapa lama lagi saya harus dibekam?” maka kami jawab, bahwa waktu yang terbaik untuk merutinkan berbekam adalah jarak antara satu hingga tiga bulan sekali, ini untuk pasien yang normal. Sedang untuk pasien dengan penyakit yang sudah agak kronis, maka kami sarankan untuk rutin berbekam dalam jarak waktu dua pecan sekali atau dalam sebulan hendaknya melakukan dua kali terapi bekam.
Sedangkan untuk tanggal dan hari terbaiknya bisa kita simak dari hadits-hadits berikut ini :
Dari Anas, bahwa Rasulullah SAW biasa berbekam pada akhda ‘ain dan tengkuk. Beliau berbekam pada tanggal 17, 19 dan 21 hijriyah (HR. Tirmidzi 51/Hasan)
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa berbekam pada tanggal 17, 19, 21 H maka itu akan menyembuhkan semua penyakit.” (HR. Abu Daud 3861/Hasan)
Ibnu Qayyim berkata, “Semua hadit sini sesuai dengan kesepakatan para tabib bahwa berbekam pada paruh kedua suatu bulan hingga pecan ketiga dari setiap bulan, lebih bermanfaat dari pada berbekam pada awal bulan atau akhir bulan. Namun, bila karena suatu kebutuhan pengobatan dengan cara ini harus digunakan, maka kapan saja itu dilakukan, maka tetap bermanfaat meski di awal bulan maupun di akhir bulan.”