Jumat, 03 April 2020

Kado Jin dari Suami di Malam Pertama


  
Gerbang pernikahan begitu sakral. Selayaknya disikapi dengan dewasa. Bukan hanya mau menang sendiri, tanpa sudi mengindahkan hak pasangannya. Bila demikian, maka kebahagiaan rumah tangga hanya diangan-angan. Seperti kisah Sari, seorang ibu beranak dua. Ia menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghoib. Berikut petikannya.

Sebagai wanita, saya ingin mengurangi beban orangtua yang tinggal sebatang kara. Bapak telah meninggal sekian tahun yang lalu. Sementara ibu terbilang sudah tidak muda lagi. Umurnya sudah berkepala lima. Tahun 2000, saya memutuskan melamar kerja di sebuah perusahaan swasta. Meski saat itu sudah ada seorang pemuda yang berniat menyunting saya. Namanya Rian.
Lamaran saya untuk bekerja diterima. Dunia baru yang memang berbeda. Saya bertemu dan berinteraksi dengan orang dengan latar belakang yang beragam.
Sementara itu Rian, yang telah bertemu dengan ibu dan bibi, berniat untuk meminta restu kepada kedua orangtuanya di Pekalongan, Jawa Tengah. Selama ini, saya memang tidak pernah bertemu dengan Rian secara langsung. Saya hanya mengenalnya sebatas informasi dari orang lain. Meski demikian, sejujurnya saya yakin bahwa ia pemuda yang baik dan mampu menuntun istrinya.
Ketika dia main ke rumah, saya tidak ikut serta menemaninya. Niatannya untuk menikah, itu pun diutarakannya langsung di hadapan ibu dan bibi. Sementara saya hanya mendengarnya dari balik pintu.
Memang, saat itu Rian belum memberikan kepastian. Dia menggantung niatan nikah itu dengan restu orangtuanya. Hanya batasan waktu tiga bulan yang ia berikan. Bila tidak ada berita apapun darinya, maka saya bebas menikah dengan orang lain. Karena itu berarti ia tidak mendapatkan restu dari orangtuanya.
Waktu berlalu begitu cepat. Sementara kabar dari Rian belum juga datang. Dalam kondisi yang tidak menentu itu, salah seorang teman kantor menemukan celah untuk mendekati saya. Teman-teman biasa memanggilnya dengan Rizal, asal Sumatra. Nama lengkapnya Syahrizal. Selama ini Syahrizal diam-diam memperhatikan saya. Hal itu saya ketahui dari teman-teman. Meski sebenarnya kami satu kantor, tapi di gedung yang berbeda.
Entah darimana asalnya, Syahrizal mengetahui rencana pernikahan saya dengan Rian. Hingga dalam suatu kesempatan dia memojokkan saya, "Sudah mau nikah ya?" tanyanya. Saya yang masih belum tahu ada apa di balik pertanyaan itu, menjawab apa adanya. "Iya, tapi nanti setelah lebaran."

Rabu, 15 Mei 2019

BAGAIMANA INTERAKSI KITA DENGAN RAMADHAN


Oleh: Dr. Atabik Luthfi, MA

“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa sebagaimana (hal itu) telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Satu kemudahan yang Allah berikan bahwa susunan ayat-ayat tentang puasa berada dalam satu surah secara berurutan, yaitu Surah Al-Baqarah ayat 183,184,185 dan 187. Kecuali ayat 186 yang berbeda kandungan pembahasannya. Namun keterkaitannya dengan puasa masih tetap kentara karena ayat ini mengisyaratkan kedekatan Allah dengan hamba-Nya.untuk diajak berkomunikasi melalui media doa. “Dan jika hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku maka katakanlah Aku dekat. Aku memenuhi permintaan orang yang meminta jika ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah ia memenuhi segala perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar senantiasa mendapat petunjuk.” Dan bulan Ramadhan adalah bulan dimana seseorang memperbanyak komunikasi dengan Allah. Karena doa seseorang yang berpuasa tidak akan ditolak oleh Allah, apalagi saat ia berbuka seperti yang ditegaskan oleh Rasulullah, “Doa orang yang berpuasa ketika ia berbuka tidak akan ditolak oleh Allah.” (HR. Ibnu Majah). Betapa puasa Ramadhan harus mendapat perhatian serius dari kita selaku orang-orang yang beriman dengan ayat ini.
            Perintah puasa dimulai dengan panggilan kehormatan kepada mereka yang masih mampu mempertahankan keimanannya. Panggilan akrab ini sebagai satu isyarat bahwa hanya mereka yang benar-benar beriman yang mampu melaksanakan puasa yang bisa mencapai target takwa. Karena puasa sudah menjadi kebutuhan dan tradisi manusia sepanjang zaman, muslim maupun non muslim. Jika puasa tidak bisa menghantarkan seseorang kepada derajat takwa, maka puasa itu masih sebatas memenuhi hajah basyariyah (kebutuhan manusiawi) seperti yang dilakukan oleh mereka yang berpuasa karena tuntutan kesehatan atau sebagainya. Inilah rahasia Allah mengawali pembahasan puasa dengan seruan yang ditujukan khusus (takhsish) kepada orang-orang yang beriman. Dan disinilah inti perbedaan antara puasa orang-orang yang beriman dengan puasa selain mereka.
            Perintah yang ditujukan khusus kepada orang-orang yang beriman, selain sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan Allah atas keimanan mereka, juga merupakan ujian atas keimanan. Mampukah dengan menjalankan puasa di bulan Ramadhan keimanan mereka meningkat mencapai derajat takwa. Panggilan takhsish ini mestinya bisa mengetuk hati kecil mereka untuk terpanggil melaksanakan perintah-perintah Allah. 

Sabtu, 05 Januari 2019

“Dengan Ilmu Metafisis, Saya Bisa Menyetir Sambil Tidur.” ( RUQYAH DAN BEKAM JAKARTA PUSAT )


Nama saya Drs.Basuki Abdur Rahman, SU. Saya lahir di Sragen, Solo Jawa Tengah, pada 21 Juni 1964. Pendidikan saya, SD dan SMP di Xaferius Katolik. Sementara SMA-nya saya masuk di SMAN I  Sragen. Selepas SMA saya melanjutkan kuliah di Universitas Gajah Mada Yogyakarta Fakultas MIPA  hingga tamat tahun 1989. Di tempat itu pula saya melanjutkan S2 Matematika, hingga tamat pada tahun 1996.

         Saya pernah terdaftar sebagai Dosen Mate­matika di 14 pergur­uan tinggi di Yogyakarta. Hing­ga akhirnya sekarang saya menjadi Dekan Fakultas MIPA Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Selama masa kuliah, saya menjadi salah satu aktifis Jamaah Shalahuddin UGM Yogya­karta.
Saya dilahirkan dalam lingkungan yang sangat jauh dari agama Islam. Bahkan keluarga saya, termasuk kedua orang tua saya tidak ada yang menjalankan shalat. Kehidupan mereka sarat dengan dunia klenik dan kemusyrikan, karena seti­ap ada masalah pasti larinya ke dukun, kemu­dian mempercayai nasehat dukun itu untuk ber­se­saji, mengadakan selamatan, kenduri dan sebagainya.
Saya sendiri ketika mau mengikuti ujian seko­lah, diajak oleh bapak saya pergi ke seorang dukun, sorang tua yang biasa disebut Mbah Fulan, di Sambirejo Sragen. Saya juga tidak tahu mau diapa­kan di sana, si Mbah itu itu bilang, “Kesini nak, saya bukakan pintu kecerdasanmu.”
Dari sejak kecil, saya terbiasa makan maka­nan yang haram, seperti makan daging babi, da­ging anjing, daging kucing dan sebagainya. Pernah ada seekor kucing yang suka makan anak ayam milik keluarga saya, maka setelah ketahuan oleh kakak-kakak saya, kucing itu segera diuber dan setelah ditangkap langsung disembe­lih dan dimakan rame-rame.
Saya mengenal shalat setelah saya kelas dua SMP. Padahal saya sekolah di SMP Xaferius Katolik. Saya tiba-tiba mendapatkan hidayah dari Allah, dengan ada keinginan untuk belajar shalat dari teman main saya Maryono yang masih duduk di kelas lima SD. Saya pun kemudian diajak belajar mengaji di langgar (surau) di kampung sebelah. Pada awalnya, saya minta dia untuk melakukan shalat di depan saya dan saya terus mengikutinya. Memang sejak saya melakukan shalat, banyak juga rintangan dari lingkungan keluarga yang tidak mengenal shalat, tetapi saya tetap melaku­kannya.
Meskipun saya sudah shalat, tetapi saya masih terbiasa makan daging anjing karena tidak tahu hukumnya, baru setelah saya ditegur oleh teman saya, kemudian saya tinggalkan.

Ketika saya mulai menginjak dewasa dan  saya sudah duduk di SMA, saya agak sedikit tertarik dengan ilmu tenaga dalam dan ilmu kebal atau tahan pukulan. Saya diajak oleh teman saya untuk ‘diisi ilmu’ tenaga dalam  dari sebuah aliran. Tidak usah saya sebutkan aliran apa. Waktu itu saya disuruh memakai sabuk saya yang sudah ‘diisi’ oleh guru saya. Kemudian ada teman yang disur­uh memukul saya dengan penuh emosi. Aneh­nya, saya merasa tidak ada pukulan yang mengenai tubuh saya dan teman saya itu pun terpental ke belakang. Kemudian giliran saya yang disuruh memukul dia.
Tetapi waktu itu juga saya ragu dengan ilmu tersebut. Maka dengan bismillah dan membaca do‘a, saya melayangkan pukulan saya ke tubuhnya. Dia pun langsung sempoyongan. Peristiwa itu menguat­kan saya untuk punya keyakinan bahwa ilmu semacam ini jelas tidak benar. Setelah itu saya pulang ke rumah dan saya gantungkan celana dan sabuk (ikat pinggang) di gantungan, tetapi malam itu malah diambil pencuri. Dan setelah itu saya tidak lagi belajar ilmu tenaga dalam.
Tetapi pengalaman seputar itu kembali ter­jadi ketika saya kuliah di UGM Yogyakarta, Fakultas MIPA, saya punya seorang teman kos. Pada suatu malam dia bilang kepada saya, “Bas, Kalau kamu mau lihat jin, coba lihat saja di tem­pat yang terang, kalau ada bayangan hitam, maka itu adalah jin. Tapi jangan takut, karena jin itu bisa kita manfaatkan untuk kepentingan terten­tu.”
Maka, saya coba perhatikan tempat yang ditunjukkan itu. Saya memang sempat melihat semacam bayangan hitam. Teman saya itu juga bilang bahwa ia punya kemampuan menangkap jin atau syetan kemu­dian di taruh di dalam kantong plastik. “Kalau kamu coba mengin­jak plastik ini, kamu pasti jatuh,” katanya waktu itu.  Tetapi saya tidak mau melakukannya. Setelah itu ia memprovokasi saya untuk belajar ilmu metafisis  paranormal, untuk pengobatan dan kesehatan. Pada waktu itu saya memang sakit TBC dan ingin sekali cepat sembuh, meskipun saya juga minum obat dari dokter. Dia bilang, ikuti cara saya, kamu akan sembuh dengan cepat. Kemudian saya tanyakan caranya bagaimana?
Untuk menjawab pertanyaan itu saya diajak ke dekat lembah UGM, dan disana saya ‘diisi kekuatan metafisik’. Saya disuruh mengosongkan diri, menetralkan diri, dan mengikuti mantra-mantra bahasa Jawa yang diajarkan kepada saya. Apapun yang terjadi, saya disuruh mengikuti saja. Dia bilang, nanti tanganmu akan bergerak sendiri, kakimu akan bergerak sendiri, dan seluruh tubuh kamu akan bergerak sendiri, ikuti saja gerakan itu.
Benar, setelah dimulai pengisian itu, kaki saya terasa ada yang mengge­rakkan perlahan-lahan, dan saya terus mengikuti gera­kan kaki saya itu sampai saya berjalan sendiri dari Karang Malang ujung E 2 sampai ke IKIP kemudian pulang ke tempat kos.
Pada malam berikut­nya, saya disuruh mencoba sendiri di kamar. Kira-kira pukul 11.00 malam saya lakukan apa yang diajarkan teman saya itu. Setelah saya baca mantra-mantra kemudian saya berdo‘a kepada Allah agar penyakit saya disembuhkan. Tidak lama kemudian, tubuh saya digerakkan dan terbanting-banting ke tembok dan ke lantai. Bergerak sendiri dengan gerakan-gerakan yang aneh-aneh. Bahkan saya sampai muntah-muntah sangat banyak. Semua makanan dan minuman malam itu habis terbuang keluar semuanya. Namun begitu, saya tetap melakukan pengobatan secara medis juga. Anehnya, setelah saya melakukan ceck up ke dokter, saya dinya­takan sembuh.
Semenjak saya belajar ilmu metafisis itu, saya bisa membaca pikiran orang, perasaan orang, dan diajari untuk meramal bagaima­na saya harus pergi atau tidak. Anehnya saya disuruh langsung memohon kepada Allah, apabila saya harus pergi, maka tangan kanan saya langsung bergerak ke kanan, kalau sebaiknya tidak pergi tangan kanan saya bergerak ke kiri. Bahkan kalau saya biarkan saja, saya bertekad untuk pergi, tanpa berdo‘a sekalipun, tangan saya bergerak sendiri. Saya juga tidak tahu kenapa bisa bergerak sendiri.
Untuk membaca pikiran dan perasaan teman, pernah saya coba pinjam motor dia, saya pakai untuk pergi. Wak­tu itu dia pinjamkan dengan berat hati, karena dia juga mau pergi. Saya lakukan dengan berdo‘a kemudian ada gerakan tangan yang menunjukkan bahwa dia mau pergi. Saya lakukan cross ceck kepadanya, dan saya meminta kejujurannya deng­an terus terang, apakah Anda tadi mau pergi atau tidak? Maka jawabnya, memang dia mau pergi. “Tetapi karena yang pinjam kamu, maka sa­ya nggak enak kalau tidak me­min­jamkan,” begitu katanya.
Lebih dari itu, saya sering sengaja tidur di atas motor menuju kampus Universitas Ahmad Dahlan tempat saya mengajar, setelah sebelumnya saya berdo‘a kepada Allah agar diselamatkan sampai tempat tujuan. Dan, memang saya tertidur betul, meskipun saya memboncengkan istri saya. Kalau melewati lampu merah, juga berhenti, belok kanan, belok kiri, jalan lurus juga tidak mena­brak-nabrak, sampai ke gerbang kampus saya baru terbangun, dan saya membaca Alhamdulillah.
Segala berjalan seperti itu. Sampai kegamang­an itu muncul, ketika saya ujian Pasca Sarjana. Waktu itu, ketika saya mau mengerjakan soal-soal ujian Pasca Sarjana, saya berdo‘a kepada Allah agar digerakkan tangan saya untuk mengerjakan soal-soal ujian. Tetapi ternyata tangan saya diam saja, tidak mau bergerak sendiri. Saya heran dan bingung.
Akhirnya, semua itu perlahan-lahan memaksa saya untuk berfi­kir logis. Berarti yang menggerak­kan tangan saya itu bukan Allah, tetapi mungkin jin yang dimasukkan. Maka saya mulai berfikir, ilmu metafisis yang saya pelajari ini tidak menam­bah kepandaian, tetapi bisa menyebab­kan orang jadi bodoh. Karenanya, setelah mere­nungkan itu semua, saya malah bersyukur ketika tangan saya tidak digerakkan untuk mengerjakan soal-soal ujian. Saya pikir, kalau saya dikerjain de­ng­an jawaban yang salah malah nilai saya bisa jeblok.
Sejak itu, saya tidak pernah lagi menggunakan ilmu saya. Hingga suatu hari saya bertemu dengan ustadz Fadhlan untuk mengi­kuti forum pengaji­an­nya. Selesai pengajian itu saya sampaikan penga­laman masa lalu saya kepada beliau. Beliau me­nya­ran­kan saya untuk melakukan terapi ruqyah. Sayapun diterapi oleh Ustadz Fadhlan, sampai empat kali.
Terapi pertama dilakukan di rumah Bapak Drs.Muhammad Haris Widodo, di Perumahan Griya Arga Permai Nogotirto, Sleman. Waktu itu, seluruh tubuh saya bergetar dan saya tidak bisa mengendali­kan gerakan kaki dan tangan saya. Kemudian ada suara jeritan dan tangisan kesakit­an yang muncul melalui mulut saya. Waktu itu saya merasa dipukul. Saya mendengar Ustadz Fadhlan membentak jin yang ada di dalam tubuh untuk keluar. Saat itu saya merasakan tenang, lalu saya disuruh untuk sujud syukur. Ustadz Fadh­lan menerangkan bahwa yang menggerak­kan tubuh saya itu adalah jin dan jeritan tadi juga jeritan jin. Pukulan ustadz pun ditujukan kepada jin, sehingga saya sendiri tidak merasakan sakit­nya pukulan Ustadz yang keras itu. Sejak itu ibadah saya semakin baik.
Pada terapi kedua, dilakukan di rumah Bapak Ir. Abdul ‘Aziz (Darwaji), di Nglempongsari Sleman setelah pengajian. Waktu itu ketika saya diruqyah, jin dalam tubuh saya tertawa ngakak melalui mulut saya. Kemudian Ustadz Fadhlan bertanya.
“Siapa kamu?
“Saya Tuhan,” jawab jin itu, melalui mulut saya.
Ustadz Fadhlan membentak, “Bohong kamu. Kamu hanyalah jin kafir yang sesat!”
“Tidak, saya adalah Tuhan,” sahut jin itu lagi.
Ustadz Fadhlan kembali mementak, “Kenapa kamu mengaku seba­gai Tuhan?”
Jin itu menjawab, “Ya, karena saya pelindung orang ini, penguasanya, dan orang ini selalu meminta apa-apa kepadaku.”
“Tidak, dia mintanya kepada Allah,” bentak Ustadz Fadhlan.
Sambil tertawa ngakak jin itu menjawab, “Tapi dia membaca mantra-mantra untukku, berarti dia sudah menyembahku.”
Ustadz Fadhlan berkata lagi, “Kalau kamu tetap mengaku seba­gai Tuhan, saya akan membacakan ayat-ayat Allah kepadamu, wahai jin kafir!
Sekali lagi, sambil tertawa ngakak, jin itu ber­kata, “Sila­kan, saya nggak takut dengan baca­anmu.”
Kemudian Ustadz Fadhlan membacakan ayat-ayat Al Qur‘an. Maka jin itu menjerit dan mena­ngis. Ia meminta agar ustadz tidak melanjutkan baca­annya, tetapi ustadz tetap membaca sampai selesai ditambah do‘a-do‘a yang dibaca dengan jelas.
Kemudian Ustadz Fadhlan menyampaikan dakwah Islam kepada jin kafir itu dengan menje­laskan tujuan jin dan manusia diciptakan hanyalah untuk mengabdi kepada Allah. Akhirnya jin itu mau mener­ima Islam dan dituntun membaca syahadatain. Untuk menguji kebe­naran dan keju­juran jin yang masuk Islam itu, Ustadz Fadhlan membacakan ayat-ayat tentang munafiqin dari awal Al-Baqarah. Ternyata jin itu menangis kesa­kit­an seperti dibakar. Kemudian Ustadz Fadhlan mengatakan, “Ternyata kamu hanya berpura-pura masuk Islam. Kalau kamu memang ingin masuk Islam, kamu harus jujur dan dengan ikhlas karena Allah, bukan karena takut kepada saya!”
Akhirnya jin itu mau bersyahadat kembali. Ketika ditanyakan namanya, jin itu menjawab namanya Paijo. Kemudian Ustadz Fadhlan meng­gantikan nama Paijo dengan Abdullah. Ustadz Fadhlan lantas membacakan ayat Kursi. Sesudah itu tampaknya jin itu tenang.
Anehnya, jin itu ingin masuk ke dalam tubuh Ustadz Fadhlan. Maka Ustadz Fadhlan berkata, “Silahkan masuk, kalau kamu bisa!” Saya pun tan­pa sadar bergerak mengikuti gerakan jin yang ber­usaha pindah ke tubuh Ustadz Fadhlan. Tetapi jin yang sudah menguras tenaga saya untuk masuk ke Ustadz, akhirnya menyerah dan bilang tidak bisa, karena ada benteng keras yang tidak keli­hatan.
Sebelum jin itu disuruh segera keluar, Ustadz membuat perjan­jian dulu dengan dia agar tidak masuk lagi ke jasad manusia. Apabila ia melanggar perjanjian ini maka laknat Allah turun kepadanya. Kemudian jin itu mengikrarkan sumpahnya dan kemudian keluar lewat mulut saya. Selama proses terapi, saya sadar penuh tetapi saya tidak bisa me­­ngendalikan gerakan tubuh atau ucapan. Keti­ka dipukul memang terasa, tetapi tidak merasa sa­kit, meskipun jinnya kesakit­an.
Terapi keempat dilakukan di rumah Ustadz Fadhlan. Saya, istri saya dan kelima anak-anak saya semuanya minta diruqyah langsung oleh Ustadz Fadhlan agar tuntas, dan agar pengaruh ilmu metafisis yang ternyata jin yang dimasukkan itu tidak menular ke keluarga saya. Ketika diruq­yah dengan mendengarkan kaset terapi serangan sihir, istri dan anak saya merasakan getaran di tangan dan terus-menerus. Maka oleh Ibu Dra. Sudarti (istri Ustadz Fadhlan) diban­tu dengan dipu­kul dan diurut, kemudian getaran itu akhirnya hilang.
Sedangkan saya, ternyata masih ada jin lain yang ada di tubuh saya. Ketika mendengarkan ayat-ayat Al Qur‘an yang disetel dengan volume tinggi, jin yang masih ada di dalam tubuh saya meronta-ronta, menjerit-jerit kesakitan dan menga­takan mau dengan bahasa Jawa bahwa ia mau keluar tetapi tidak bisa. Ia mengatakan, “Pokoke aku arep metu tenan iki, piye carane?” (Pokoknya saya mau keluar betulan ini, bagaimana caranya?).
Ustadz Fadhlan menanyakan, “Apa agamamu?
Jin itu menjawab, “Islam.”
“Kamu jin Islam atau jin Munafiq?” tanya Ustadz Fadhlan lagi.
Ia menjawab, “Jin munafiq.”
Kemudian Ustadz Fadhlan membacakan ayat-ayat tentang munafi­qin di awal surat Al Baqarah, jin meraung-raung kesakitan, ustadz membim­bing­nya untuk bertaubat kepada Allah, setelah ber­taubat dan bersayahadat, jin diperintahkan untuk segera keluar, tetapi tidak bisa karena di­ikat dikedua kakinya. Ustadz membacakan do‘a dan memukul kedua kaki saya dengan sapu lidi sampai akhirnya ikatan itu lepas dan jin keluar de­ng­an seluruh anak buahnya yang ikut masuk Islam.
Saya kemudian bangun dan lemas sekali. Karena lebih dari dua jam diruqyah. Saya seperti mandi keringat di tengah malam. Waktu itu saya ingat betul, jam 11.23 malam Ahad, 14 Desem­ber 2002. Saya disuruh untuk sujud syukur dan saya lakukan.
Dari peristiwa dan kejadian yang saya alami sendiri ini, saya menjad sadar. Memang saya sebelumnya sama sekali tidak tahu adanya tipu daya jin atau syetan di balik ilmu metafisis yang diajarkan kepada saya, termasuk cara pengobatan sakit TBC, ilmu telephati untuk mem­baca pikiran atau pera­saan orang lain, atau mengendarai mobil tanpa sadar dan tahu-tahu sudah berada di tempat lain.
Saya baru tahu setelah diruqyah. Semenjak diruqyah saya merasa lebih ringan dalam beribadah, membaca Al Qur‘an, bahkan saya sangat bersyukur karena lebih mudah melakukan shalat malam dan saya rutinkan shalat dhuha. Apalagi, Alhamdulillah saya juga punya amanah menjadi Ketua Yayasan Pendidikan Dakwah dan Sosial Al Khairat, yang mem­bawai Pesantren Mahasiswa dan Mahasiswi Al Khairat dengan jumlah san­trinya 120 orang. Juga di Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah, TKIT dengan jumlah santri 80 anak, serta SDIT yang baru memasuki tahun pertama dengan satu kelas.
Sejak itu saya selalu berdo’a, mudah-mudahan saya, istri saya, Dra. Shofi, dan anak-anak saya, tiga putri dan dua putra, benar-benar dibimbing Allah untuk lebih mendekat kepada-Nya, berja­lan di jalan yang diridhoi-Nya, dan dibersihkan dari segala macam kemusyrikan.
Seperti dituturkan Drs. Basuki Abdur Rahman, yang tinggal di Warungboto, Umbulharjo, Yogyakarta, kepada  Majalah Ghoib. 

Jumat, 23 Maret 2018

Terpedaya Dukun Bertampang Kyai


Ustadz, saya pernah sakit kepala terasa ditusuk-tusuk jarum, dan berobat ke dokter sering kali tapi belum sembuh. Saya pernah mengundang seorang kyai, saat pengobatan dia mengeluarkan kawat dari dada dan kaki, tiga butir gabah dari dada. Dia memberi saya jimat, bambu kuning untuk dikubur di pekarangan rumah.
Setelah saya tahu kalau pakai jimat itu tidak boleh. Saya ragu, apakah dia dukun atau kyai? Lalu saya menggali jimat itu dan membuangnya. Tapi yang di belakang rumah tidak ketemu saat digali kembali. Kemana bambu tersebut? Sampai sekarang saya dibayang-bayangi dosa tersebut, terapi apa yang harus saya lakukan? Atas jawabannya, terima kasih.
Hamba Allah, Jatiwangi Majalengka Jawa Barat
Bismillah wal Hamdulillah, cerita Anda cukup detil, tapi maaf kami tidak bisa menampilkan isi surat Anda semuanya, karena terbatasnya ruang. Do’a dari redaksi dan pembaca Majalah Ghoib lainnya, semoga Allah segera menyembuhkan penyakit yang Anda derita. Aamiin.
Sudah banyak pembaca Majalah Ghoib yang mengadukan pengalaman yang serupa dan hampir sama dengan Anda, yaitu terpedaya oleh seorang dukun yang bertampang kyai. Bahkan di antara mereka ada yang tertipu secara materi dan immateri, terampas aqidah dan kehormatannya. Sungguh memilukan.
Maka dari itu, sudah seharusnya kita hati-hati terhadap praktik perdukunan yang menggunakan lebel Islam, dan menjauhi seorang dukun yang berbaju kyai. Jangan terpesona dengan penampilan, tapi lihatlah bagaimana cara dia melakukan pengobatan atau terapi. Kalau cara yang digunakan adalah cara perdukunan, maka ia adalah dukun, meskipun pakaiannya pakaian ulama’ atau kyai.
Tapi di sisi lain, kami juga turut bergembira karena Anda segera menyadari bahwa sosok yang dianggap kyai itu, ternyata hanyalah seorang dukun yang menyesatkan. Solusi yang Anda terima darinya selama ini adalah solusi syetan, dengan menggunakan sesajen kembang dan jimat-jimat produk syetan.

Senin, 22 Januari 2018

Putus Mata Rantai Ilmu Titisan


Bu Ramting tidaklah sendirian. Ada banyak kisah serupa yang kita temukan dari pasien ruqyah yang diterapi di Ghoib Ruqyah Syar'iyah. Para pasien itu tidak pernah mempelajari ilmu kesaktian dengan berbagai fariannya. Mereka juga tidak melakukan tirakatan, atau lelakon apapun.
Tapi mereka adalah korban. Ya, korban atas apa yang dilakukan oleh leluhur mereka yang pernah memperdalam ilmu kesaktian. Mereka dipaksa untuk menjadi penitisan jin yang mereka katakan sebagai khadam, tanpa dimintai persetujuan.
Mau atau tidak, mereka adalah pewaris ilmu titisan. Sesuai dengan perjanjian yang telah dibuat oleh leluhur mereka. Itu adalah perjanjian dengan syetan yang ujung-ujungnya menyeret ke jurang kehancuran.
Menilik pada keseluruhan kisah, sesungguhnya kemampuan itu bukanlah karamah atau maunah, karena setelah menyembuhkan pasien patah tulang, justru salah satu keluarganya ada yang menjadi korban berikutnya. Mereka mengalami kecelakaan.
Keahlian itu adalah titisan dari leluhur Bu Ramting, yang diakuinya ahli urut. Masalahnya mengapa kemudian keluarganya menjadi tumbal? Bisa jadi karena ada persyaratan-persyaratan tertentu yang belum dilunasi. Sehingga syetan yang telah membantu Bu Ramting meminta ganti yang lain.
Menurut orang pintar lainnya, keahlian Bu Ramting pada akhirnya akan menitis pada anak-anaknya. Buktinya, sejak kecil, kedua anaknya bisa melihat makhluk ghaib yang tidak bisa dilihat orang lain. Dengan kata lain, pada diri kedua anaknya sudah ada jin yang menyertai mereka.
Keberadaan jin dalam diri manusia tidaklah menguntungkan manusia itu sendiri. Karena sejak semula mereka telah mengikrarkan diri sebagai musuh yang akan mengajak mereka ke dalam neraka. Bukalah lembaran al-Qur'an dalam surat al-Hijr ayat 34. Syetan berikrar, "Dan aku akan menyesatkan mereka semua."

Rabu, 22 November 2017

SUDAHKAH ANDA BERBEKAM

OLEH. USTADZ AGUNG AL-MUMTAZY
Pembaca yang budiman,
Kita telah sama-sama mengetahui bahwa khasiat dan manfaat hijamah ( berbekam ) itu sangat agung baik di masa yang lalu, sekarang dan untuk masa yang akan datang. Mungkin telah ribuan bahkan jutaan kasus berbagai penyakit yang telah sembuh hanya dengan merutinkan terapi hijamah / bekamini. Mulai dari stroke, kanker, hipertensi, insomnia, vertigo, asamurat, kolesterol, gatal-gatal, dan lain-lain, semua bisa sembuh dengan terapi mukjizat ini. Dan uniknya lagi, terapi bekam ini telah diakui dan dipraktekan oleh seluruh para terapisnya di semua belahan dunia, baik muslim maupun non muslim.
Ketika kita telah merasakan nikmatnya melakukan terapi ini, kemudian timbul pertanyaan, “Kapan lagi saya harus dibekamya?” atau “Sebaiknya berapa lama lagi saya harus dibekam?” maka kami jawab, bahwa waktu yang terbaik untuk merutinkan berbekam adalah jarak antara satu hingga tiga bulan sekali, ini untuk pasien yang normal. Sedang untuk pasien dengan penyakit yang sudah agak kronis, maka kami sarankan untuk rutin berbekam dalam jarak waktu dua pecan sekali atau dalam sebulan hendaknya melakukan dua kali terapi bekam.
Sedangkan untuk tanggal dan hari terbaiknya bisa kita simak dari hadits-hadits berikut ini :
Dari Anas, bahwa Rasulullah SAW biasa berbekam pada akhda ‘ain dan tengkuk. Beliau berbekam pada tanggal 17, 19 dan 21 hijriyah (HR. Tirmidzi 51/Hasan)
Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa berbekam pada tanggal 17, 19, 21 H maka itu akan menyembuhkan semua penyakit.” (HR. Abu Daud 3861/Hasan)
Ibnu Qayyim berkata, “Semua hadit sini sesuai dengan kesepakatan para tabib bahwa berbekam pada paruh kedua suatu bulan hingga pecan ketiga dari setiap bulan, lebih bermanfaat dari pada berbekam pada awal bulan atau akhir bulan. Namun, bila karena suatu kebutuhan pengobatan dengan cara ini harus digunakan, maka kapan saja itu dilakukan, maka tetap bermanfaat meski di awal bulan maupun di akhir bulan.”

Rabu, 27 September 2017

Bekam (Al Hijamah): Cara Pengobatan Menurut Sunnah Nabi SAW


  Diriwayatkan dari Said bin Jubair RA dari Ibnu Abbas RA dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda:“Kesembuhan bisa diperoleh dengan tiga cara: minum madu, sayatan pisau bekam, dan sundutan besi panas, dan aku melarang umatku (menggunakan) pengobatan dengan besi panas”(HR. Al-Bukhari, dikeluarkan juga oleh Ibnu Majah, Ahmad dan Al-Bazzar)
Segala puji bagi Allah SWT, yang dengan kehendak-Nya Dia menurunkan penyakit dan juga obatnya. Shalawat dan salam kita haturkan kepada Rasulullah SAW yang telah mengajarkan kepada umatnya segala sesuatu yang bermanfaat, baik dalam perkara agama maupun dunia mereka, yang diantaranya adalah mengajarkan umatnya bagaimana cara menjaga kesehatan ruhani dan jasmani serta cara pengobatan dari beragam penyakit. Juga shalawat dan salam kita sampaikan kepada keluarga beliau, sahabat-sahabatnya serta siapa saja yang berjalan di atas jalan mereka hingga akhir zaman.
Dunia Pengobatan Umum
Dunia pengobatan semenjak dulu selalu berjalan seiring dengan kehidupan manusia. Karena, sebagai makhluk hidup, manusia amatlah akrab dengan berbagai macam penyakit ringan maupun berat.Keinginan untuk berlepas diri dari berbagai penyakit itulah yang mendorong manusia berupaya menyingkap berbagai metode pengobatan, mulai dari mengkonsumsi berbagai jenis tumbuhan secara tunggal maupun yang sudah terkontaminasi, yang diyakini berkhasiat menyembuhkan penyakit tertentu, atau sistem pemijatan, akupuntur, pembekaman hingga operasi dan pembedahan.
Namun seiring dengan perkembangan peradaban manusia, budaya konsumerisme dan materialisme menggiring manusia mengkonsumsi berbagai jenis makanan yang dianggap praktis, lezat dan penuh variasi. Sayangnya kebanyakan mereka tidak menyadari bahwa produksi makanan semacam itu seringkali terpaksa menggunakan berbagai jenis bahan kimia berbahaya, sepertiborax,formalin, Rhodamin B dan Metanil Yellow(bahan pewarna sintetis), antibiotikkloramfenikol,dietilpirokarbonat,dulsin, nitrofurazondan berbagai bahan kimia yang amat merusak kesehatan. Orang yang sudah banyak mengkonsumsi berbagai jenis makanan berkomposisi kimia menjadi sering terserang penyakit komplikasi yang beragam. Sehingga obat-obatan yang diperlukan juga obat-obatan berkomposisi kimia berat.

Bukan rahasia lagi, pengobatan dengan bahan kimia sintetis (pengobatan barat/modern) mungkin dapat mengobati suatu penyakit, tetapi dapat juga menimbulkan penyakit bawaan yang lain sebagai bentukside effectburuk dari sifat bahan kimia. Satu penyakit dapat disembuhkan tetapi dapat muncul penyakit lain. Jadilah lingkaran setan yang tidak ada habisnya dalam dunia pengobatan modern. Ternyata mahalnya obat kimia sintetis bukan jaminan kesembuhan.

Rabu, 20 April 2016

FENOMENA PENYAKIT AKIBAT GANGGUAN SIHIR DAN JIN

Secara umum berbagai penyakit  yang muncul di tengah masyarakat di Indonesia ini dapat dibagi
menjadi dua kelompok yaitu penyakit yang muncul akibat masalah medis dan non medis. Penyakit akibat masalah  medis umumnya bisa ditelusuri secara medis , baik dari hasil pemeriksaan laboratorium maupun diagnosa dokter.  Secara fisik penyakit inipun  bisa terlihat seperti luka , bisul, kurap, bengkak, kaki atau tangan lumpuh dan lain sebagainya. Penyakit seperti ini karena jelas penyebabnya bisa dirawat dan diobati secara medis oleh dokter atau rumah sakit.
Lain halnya dengan penyakit non medis atau penyakit akibat gangguan sihir dan syetan dari golongan jin. Penyakit ini terasa kehadirannya oleh penderita. Namun ketika dibawa kedokter atau dicek pada laboratorium medis tidak ditemukan kelainan. Dokter sulit memberikan obat yang tepat karena tidak ditemukan adanya kelainan, sementara si pasien mengeluhkan rasa sakit yang amat sangat.
Masing masing penyakit diatas mempunyai cara pengobatan sendiri. Penyakit non medis tidak bisa disembuhkan dengan cara medis demikian pula sebaliknya. Banyak orang yang terkena penyakit non medis ditangani secara medis tentu saja tidak kunjung sembuh, bahkan penyakitnya bertambah parah karena mendapat pengobatan yang tidak tepat. Diantaranya bahkan ada yang malah keracunan obat karena terus menerus makan obat dari dokter yang tidak tepat penggunaannya. Menghadapi penyakit non medis ini kadangkala dokter menjadi bingung untuk memberikan obat, karena secara medis tidak ditemukan kelainan.
Penyakit non medis ini sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu , ini adalah penyakit yang ditimbulkan oleh kejahatan syetan dari golongan Jin terhadap manusia. Mereka memang memiliki kemampuam untuk  mengganggu fungsi organ tubuh manusia dengan seizin Allah. Tanpa izin dan kehendak Allah mereka tidak bisa melakukan semua itu.

Sabtu, 23 November 2013

Wanita Shalihah Pendidik Generasi Muslim


Wanita Shalihah Pendidik Generasi MuslimWanita shalihah tak ubahnya mata yang "menyihir" dan pendidik yang mahir. Wanita shalihah harus dipersiapkan dan diajarkan untuk mengemban berbagai tugas yang diharapkan dapat mendatangkan keridhaan Allah SWT.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri, dia berkata bahwa suatu ketika para wanita pernah berkata kepada Rasulullah, “Kaum laki-laki telah mengalahkan kami, maka jadikanlah satu hari untuk kami.” Nabi Muhammad pun menjanjikan satu hari untuk dapat bertemu dengan mereka, kemudian Nabi memberikan nasihat dan perintah kepada mereka. Salah satu ucapan beliau kepada mereka adalah: “Tidaklah seorang wanita di antara kalian yang ditinggal mati tiga anaknya, melainkan mereka adalah penghalang baginya dari api neraka.” Seorang wanita bertanya, “Bagaimana kalau hanya dua?” Beliau menjawab, “Juga dua.” (HR. Al-Bukhari)

Di hadits tersebut terdapat sebuah penegasan (afirmasi) betapa pentingnya memberi pengajaran kepada para wanita. Tengoklah bagaimana Nabi Muhammad mengkhususkan waktu satu hari untuk mengajarkan dan menasehati para wanita. Ini mengingat, wanita memiliki andil dan kontribusi dalam membangun masyarakat dan mendidik generasi muslim.

Memperbanyak Nikmat Allah dengan Bersyukur kepada-Nya

Memperbanyak Nikmat Allah dengan Bersyukur kepada-Nya

KETIKA masih kecil, kita diberitahu orangtua untuk selalu membaca Al-Qur’an sesering mungkin. Lalu pada saat bulan Ramadhan datang, kita dianjurkan untuk menamatkan bacaan Al-Qur’an. Kita mesti bertanya kepada diri kita sendiri, berapa kali kita membaca Al-Qur`an dan merenungkan segenap maknanya?

Banyak dari kita yang hafal Al-Qur`an, namun sedikit saja yang memahami maknanya. Pernahkah kita terpikir untuk menyelami makna ayat-ayat Al-Qur`an? Ada satu ayat di dalam surat Al-Fatihah yang sejatinya membuat kita merendahkan hati, mengingatkan kita bahwa berterimakasih dan bersyukur kepada Allah adalah sebuah kewajiban. Untuk berterimakasih kepada Allah, pertama-tama kita harus mengingat akan karunia yang telah kita dapatkan, dan kita pun harus menyadari bahaya yang timbul dikarenakan kita tidak bersyukur. Selanjutnya adalah bagaimana caranya untuk menunjukkan rasa syukur kita kepada-Nya.
... Sangat penting bagi kita untuk mengapresiasi kenikmatan yang kita dapatkan dalam segala hal...

Kamis, 21 November 2013

10 Tips Keharmonisan Pasangan Suami-Istri


10 Tips Keharmonisan Pasangan Suami-IstriSIAPA PUN yang telah mengikatkan diri dalam tali pernikahan tentunya menginginkan atmosfer rumah tangga yang harmonis. Maka yang harus dipikirkan pertama kali adalah bagaimana melakukan harmonisasi hubungan suami-istri. Menjaga keharmonisan pasangan suami-istri (pasutri) tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, tapi membutuhkan usaha dan pengorbanan.
Berikut ini adalah sepuluh tips mewujudkan keharmonisan pasutri, sebagaimana ditulis Wafaa‘ Muhammad, dalam kitabnya Kaifa Tushbihina Zaujah Rumansiyyah:
1. Berupaya saling mengenal dan memahami
Perbedaan lingkungan dan kondisi tempat suami atau istri tumbuh sangat berpengaruh dalam pembentukan ragam selera, perilaku, dan sikap yang berlainan pada setiap pihak dari yang lain. Hal itu merupakan kewajiban setiap pasutri untuk memahami keadaan ini dan berusaha mengetahui serta mengenal pihak lain yang menjadi pasangan hidupnya. Mereka juga harus mengetahui semua hal yang berkaitan dengan situasi kehidupan yang mempengaruhi, sehingga dapat maju ke depan dan mewujudkan keharmonisan.
2. Perasaan timbal-balik
Suami dan istri adalah partner dalam satu kehidupan yang direkatkan dalam tali pernikahan; satu ikatan suci yang mempertemukan keduanya. Tak pelak lagi, keduanya harus berbagi suka-duka; membagi kesedihan dan kegembiraan bersama. Keduanya saling berkelindan untuk menyongsong satu cita-cita luhur yaitu mewujudkan tatanan kehidupan berdasarkan aturan Allah dan Rasul-Nya. Untuk memupuk kasih sayang di masing-masing pihak, suami membutuhkan cinta istri, dan istri pun membutuhkan cinta suami.

17 Jurus Membahagiakan Suami

Salah satu kunci keluarga sakinah adalah adanya cinta dan kasih sayang suami dan istri yang dibangun di atas spirit saling membahagiakan.
Di bawah ini adalah 17 tips bagi istri agar bisa membahagiakan suami. Tips ini merupakan ringkasan dari buku How to Make Your Husband Happy, karya Syaikh Muhammad Abdul Halim Hamid.
1. Sambutan yang manis
  • Sekembalinya suami dari bekerja, dinas luar kota, bepergian, atau kemana pun dia pergi, sambutlah dia dengan baik.
  • Temui dia dengan wajah riang gembira.
  • Bersolek dan pakailah wewangian.
  • Kabarilah dia dengan kabar-kabar baik yang menggembirakan. Tahan diri Anda untuk menyampaikan berita-berita buruk, setidaknya sampai dia telah beristirahat dengan cukup.
  • Berusaha keraslah untuk menyajikan makanan-makanan bermutu, dan sajikanlah selalu tepat waktu.
2. Percantiklah dirimu dan rendahkan suaramu
  • Usahakan agar Anda selalu tampil cantik dan merendahkan suara di hadapannya. Lakukanlah hal itu hanya untuk suami Anda, dan jangan menampakkan kecantikan Anda di hadapan laki-laki yang bukan mahram (laki-laki yang layak untuk engkau nikahi jika engkau belum menikah).

Selasa, 12 November 2013

KEISTIMEWAAN BULAN MUHARRAM

 

Keutamaan Bulan Muharram dan Hari Asyura

Muharram adalah bulan di mana umat Islam mengawali tahun kalender Hijriah berdasarkan peredaran bulan. Muharram menjadi salah satu dari empat bulan suci yang tersebut dalam Al-Quran. "Jumlah bulan menurut Allah adalah dua belas bulan, tersebut dalam Kitab Allah
pada hari Dia menciptakan langit dan bumi. Di antara kedua belas bulan itu ada empat bulan yang disucikan."
Keempat bulan itu adalah, Zulqaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab. Semua ahli tafsir Al-Quran sepakat dengan hal ini karena Rasululullah Saw dalam haji kesempatan haji terakhirnya
mendeklarasikan, "Satu tahun terdiri dari dua belas bulan, empat di antaranya adalah bulan suci. Tiga di antaranya berurutan yaitu Zulqaidah, Zulhijjah, Muharram dan ke empat adalah bulan Rajab."
Selain keempat bulan khusus itu, bukan berarti bulan-bulan lainnya tidak memiliki keutamaan, karena masih ada bulan Ramadhan yang diakui sebagai bulan paling suci dalam satu satu tahun. Keempat bulan tersebut secara khusus disebut bulan-bulan yang disucikan karena ada
alasan-alasan khusus pula, bahkan para penganut paganisme di Makkah mengakui keempat bulan tersebut disucikan.
Pada dasarnya setiap bulan adalah sama satu dengan yang lainnya dan tidak ada perbedaan dalam kesuciannya dibandingkan dengan bulan- bulan lain. Ketika Allah Swt memilih bulan khusus untuk menurunkan rahmatnya, maka Allah Swt lah yang memiliki kebesaran itu atas
kehendakNya.

Keutamaan Puasa ‘Asyuura di Bulan Muharram


Saudaraku, kita sekarang berada di bulan Muharram awal tahun baru hijriyah. Berdasarkanbeberapa hadits ditemukan anjuran Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam kepada ummat Islam agar  melaksanakan puasa di tanggal sepuluh bulan Muharram. Tanggal sepuluh bulan Muharram biasa disebut Yaum ’Aasyuura (Hari kesepuluh bulan Muharram).
Suatu ketika Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mendapati kaum Yahudi sedang berpuasa pada hari ’Asyuura. Lalu beliau bertanya mengapa mereka berpuasa pada hari itu. Merekapun menjelaskan bahwa hal itu untuk memperingati hari dimana Allah telah menolong Nabi Musa bersama kaumnya dari kejaran Fir’aun dan balatentaranya. Bahkan pada hari itu pula Allah telah menenggelamkan Fir’aun sebagai akibat kezalimannya terhadap Bani Israil. Mendengar penjelasan itu maka Nabi shollallahu ’alaih wa sallam-pun menyatakan bahwa ummat Islam jauh lebih berhak daripada kaum Yahudi dalam mensyukuri pertolongan Allah kepada Nabi Musa. Maka beliau-pun menganjurkan kaum muslimin agar berpuasa pada hari ’Asyuura.

Senin, 11 November 2013

MERAJUT KELUARGA SAKINAH MAWADDAH WA RAHMAH

Apa arti keluarga sakinah itu?

Dalam bahasa Arab, kata sakinah di dalamnya terkandung arti tenang, terhormat, aman, merasa dilindungi, penuh kasih sayang, mantap dan memperoleh pembelaan. Namun, penggunaan nama sakinah itu diambil dari al Qur’an surat 30:21, litaskunu ilaiha, yang artinya bahwa Allah SWT telah menciptakan perjodohan bagi manusia agar yang satu merasa tenteram terhadap yang lain.Jadi keluarga sakinah itu adalah keluarga yang semua anggota keluarganya merasakan cinta kasih, keamanan, ketentraman, perlindungan, bahagia, keberkahan, terhormat, dihargai, dipercaya dan dirahmati oleh Allah SWT.

Apa arti mawaddah wa rahmah?
Di dalam keluarga sakinah itu pasti akan muncul mawaddah dan rahmah (Q/30:21). Mawaddah adalah jenis cinta membara, yang menggebu-gebu kasih sayang pada lawan jenisnya (bisa dikatakan mawaddah ini adalah cinta yang didorong oleh kekuatan nafsu seseorang pada lawan jenisnya). Karena itu, Setiap mahluk Allah kiranya diberikan sifat ini, mulai dari hewan sampai manusia. Mawaddah cinta yang lebih condong pada material seperti cinta karena kecantikan, ketampanan, bodi yang menggoda, cinta pada harta benda, dan lain sebagainya. Mawaddah itu sinonimnya adalah mahabbah yang artinya cinta dan kasih sayang.

Air Mataku UntukMu ya Allah

Dalam keheningan shalat malam
Air mataku untukMu ya Allah
Di syahdunya tilawah
Air mataku untukMu ya Allah
Di lapar dan dahaganya shaum
Air mataku untukMu ya Allah
Di keringnya bibir dalam berdzikir
Air mataku untukMu ya Allah
Di semangatnya berjuang dalam kebenaran
Air mataku umtukMu ya Allah
Dan ketika Engkau memberikan pilihan yang terbaik
Air mataku untukMu ya Allah

Ya Allah ketika cinta bersemi kembali
Hamba hanya ingin dikuatkan untuk lebih mencintaiMu
Karena terkadang hati ini berpaling dariMu
Terperosok oleh kesemuan dunia dan makhlukMu
Ya Allah tolonglah... kuatkan hati ini untuk lebih mencintaiMu
Jadikanlah kendaraan rinduku sebagai muara pertemuan denganMu
Bantulah hamba Ya Robb
Pautkanlah hati ini untuk selalu mengingatMu dan...
Bimbinglah hamba menuju jalan yang Engkau ridhoi
Amin...